Test Footer

Jumat, 19 April 2013

Menjadi Agen Sukacita


 
Setiap orang mempunyai tugas untuk menjadi agen sukacita. Soalnya, apakah Anda menyadari hal ini? Atau Anda tidak mau tahu?

Suatu hari seorang anak berusia lima tahun membangunkan ayahnya. Ia berbisik di telinga ayahnya, �Ayah, hari ini saya mendapat hadiah dari mama. Pasti ayah senang melihatnya.�

Sang ayah tersenyum mendengar bisikan anaknya. Ia pun memeluk anaknya erat-erat sambil mendaratkan sejumlah ciuman kasih. Lantas anak itu menunjukkan hadiah yang diberikan mamanya itu. Ayahnya kembali tersenyum. Hari itu ia sangat bersukacita. Ia melupakan semua persoalan yang dihadapi selama beberapa hari ini.

Ia berkata, �Nak, hati ayah sangat damai hari ini. Kamu begitu baik terhadap ayah. Terima kasih atas kabar gembira ini. Semoga kamu menjadi anak yang bahagia.� Sang anak menemukan damai di hatinya hari itu.

Sahabat, kerinduan setiap keluarga adalah mengalami keharmonisan, kebahagiaan dan sukacita. Namun banyak keluarga yang tidak mengalami hal ini. Banyak rumah tangga yang mewarnai perjalanan hidup mereka dengan pertengkaran. Tidak ada rasa damai. Tidak ada sukacita. Padahal damai dan sukacita merupakan kunci yang menjadi kekuatan bagi setiap keluarga.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa memelihara sukacita dalam hidup sehari-hari. Damai mesti senantiasa ditumbuhkan dalam hidup bersama. Anak itu mengalirkan sukacita yang diperolehnya kepada sang ayah yang sedang ditimpa kesulitan. Ia berhasil. Ayahnya boleh mengalami sukacita. Ayahnya boleh mengalami damai dalam hidupnya.

Sadar atau tidak, sukacita merupakan hal penting yang mesti dimiliki dalam hidup berkeluarga. Orang yang mengalami sukacita akan menemukan bahwa hidup memiliki makna yang dalam. Orang tidak hanya menjalani hidup ini secara rutin saja. Tetapi orang sungguh-sungguh menemukan damai dalam hidupnya.

Untuk itu, setiap orangtua mesti memulai hari-hari hidupnya dengan sukacita. Orangtua mesti mewarnai hidup ini dengan menciptakan suasana damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini, orangtua dapat mengalirkan sukacita dan damai itu bagi anak-anaknya. Anak-anak dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtua mereka. Dengan demikian, anak-anak itu bertumbuh dalam suasana yang penuh sukacita dan damai.

Namun banyak orangtua kurang menyadari hal ini. Yang mereka pentingkan adalah bagaimana bekerja sehabis-habisnya untuk mendapatkan rezeki. Mereka membuang begitu banyak waktu untuk pekerjaan mereka. Mereka kurang menyadari bahwa tugas utama mereka adalah membawa sukacita dan damai bagi hidup bersama.

Karena itu, baiklah kalau para orangtua menyadari dirinya sebagai agen sukacita. Sebagai agen sukacita, mereka mesti menularkan sukacita itu pertama-tama bagi anak-anak mereka. Mereka berusaha untuk membawa sukacita dan damai bagi orang-orang yang terdekat dengan mereka. Dengan demikian, hidup berkeluarga menjadi suatu rahmat yang membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


964
Read more »

Berefleksi untuk Menemukan Kasih yang Tulus

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda sedang berhadapan dengan situasi yang sulit? Misalnya, orang yang begitu dekat dengan Anda meninggalkan Anda? Apakah Anda membiarkannya pergi begitu saja? Atau Anda berusaha untuk menyalahkan dirinya?

Ada seorang bapak yang mengalami hati yang gundah. Pasalnya, sang istri sedang jatuh cinta dengan pria lain. Tidak hanya itu. Istrinya beberapa hari meninggalkan rumah. Ia tidak tahu di mana istrinya berada. Ia sudah mencari ke beberapa tempat, tetapi ia tidak menemukannya. Bapak itu merasa bersalah. Mengapa ia mesti kehilangan istrinya? Ia masih mencintai istrinya itu.

Suatu hari, ia berpapasan dengan istrinya di suatu tempat yang ramai. Ia sempat memandang wajah istrinya. Namun istrinya kemudian menghindari dirinya. Ia menghilang dalam keramaian. Bapak itu sangat kecewa. Ia ingin menjumpai istrinya, namun ia tidak bisa. Kerinduan yang begitu dalam seolah tidak punya makna apa-apa.

Begitu sampai di rumah, bapak itu memukuli dirinya sendiri dengan sebuah tongkat. Darah mengucur dari dahinya. Itulah tanda penyesalannya, mengapa ia tidak bisa bertemu dengan istrinya. Lantas ia mencoba menelephone istrinya. Namun sang istri tidak pernah menjawab telephonenya. Ia mengirim SMS, namun tidak pernah dibalasnya.

Bapak itu kemudian mengadakan refleksi yang mendalam atas kondisi hidupnya, istrinya dan keluarganya. Dalam refleksinya itu, ia menemukan ada dua hal yang menyebabkan situasi keluarganya karut marut. Pertama, ia terlalu memaksakan kehendaknya. Selama ini ia menjadi seperti seorang raja yang berkuasa penuh atas keluarganya. Tidak ada yang berani membantah kata-katanya, termasuk istri yang sangat dicintainya. Akibatnya, tidak ada suasana hidup yang bebas dalam keluarga itu.

Kedua, ia terlalu egois. Segala hal ia lakukan untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau ada orang yang melebihi dirinya. Gajinya ia mau pegang sendiri. Ia menjadi orang yang kikir dengan mengutamakan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, sang istri yang tidak bekerja tidak bisa belanja untuk berbagai keperluan keluarga. Kebutuhan anak-anaknya tidak terpenuhi dengan layak. Akibat lanjutnya adalah sang istri nekad meninggalkan dirinya.

Sahabat, sering manusia merasa bahwa kepentingan dirinya yang mesti diutamakan. Kepentingan orang lain nanti dulu. Akibatnya, orang berusaha untuk secara sewenang-wenang menguasai orang lain. Orang tidak memikirkan kepentingan dan kebutuhan orang lain. Jeleknya lagi, hal seperti ini pun sering terjadi dalam hidup bersama.

Pertanyaannya, mengapa hal seperti ini mesti terjadi bahkan menimpa hidup berkeluarga? Tentu saja ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang pasti, yaitu orang kehabisan kasih setia kepada sesamanya. Akibatnya, orang hanya mengutamakan dirinya sendiri. Orang tidak melihat kebutuhan hidup sesamanya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa hidup dalam suasana kasih merupakan hal yang utama. Ketika orang kehilangan kasih, orang juga kehilangan sesama yang ada di sekitarnya. Orang hidup bagai layang-layang putus. Orang tidak bisa lagi mengungkapkan kerinduannya untuk berjumpa dengan orang-orang yang sangat dicintai.

Karena itu, orang beriman mesti selalu mengutamakan kasih di atas segala-galanya. Orang beriman mesti melandaskan hidupnya pada kasih setia yang tulus. Hanya melalui kasih setia yang tulus itu, orang beriman mampu meneruskan perjalanan hidup di dunia ini dengan hati yang damai dan penuh sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


965
Read more »

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Lepas dari Kegelapan





Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda berada dalam situasi kegelapan dan dosa? Anda akan berjuang sendiri untuk melepaskan diri Anda dari situasi itu? Atau Anda akan mengandalkan rahmat Tuhan?

Suatu ketika saya menyusuri suatu lorong yang gelap. Namun saya berjalan dengan lancar saja di lorong itu. Pasalnya, sudah beberapa kali saya melintasi lorong itu di siang hari. Jadi saya sudah agak hafal hal-hal yang ada di sepanjang lorong itu. Namun saat malam itu saya melewati lorong itu, dahi saya terbentur sesuatu. Butir-butir darah segar mengucur membasahi wajah saya. Saya agak panik. Namun saya mampu menguasai diri.

Setelah berhenti sesaat, saya meneruskan perjalanan saya. Di ujung orong itu ada seberkas cahaya. Saya merasa aman. Saya merasa ada sesuatu yang memberi harapan. Meski darah masih mengalir perlahan-lahan, saya terus mengarahkan pandangan saya ke ujung lorong itu. Seberkas cahaya itu mampu meyakinkan saya bahwa saya mampu menembus lorong yang gelap itu. Saya merasa yakin, ada sesuatu yang memberi kekuatan untuk terus maju.

Benar. Kaki-kaki saya terus melangkah hingga di ujung lorong itu. Anehnya, cahaya yang saya lihat itu ternyata tidak ada di ujung lorong itu. Cahaya itu masih jauh dari ujung lorong itu. Cahayanya berpendar-pendar hingga di ujung lorong itu. Saya merasa, cahaya itu hanyalah fatamorgana. Namun cahaya itu telah menguatkan saya untuk terus berjalan, meski darah masih mengalir dari dahi saya. Ada optimisme. Ada kekuatan untuk meraih tujuan.

Sahabat, setiap kita tentu pernah mengalami kegelapan dalam hidup. Kita merasa takut di saat kegelapan melingkupi diri kita. Kita merasa cemas. Kita merasa ada sesuatu yang mesti kita hindari, namun ternyata kita tidak mampu. Ada yang mengancam diri kita. Yang kemudian sering kita buat adalah kita lari menghindari kegelapan itu. Kita berusaha untuk menemukan terang.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti tetap tenang saat kegelapan menghadang kita dalam perjalanan hidup. Kita tidak perlu merasa takut atau panik. Yang mesti kita lakukan adalah tetap memusatkan perhatian pada apa yang semestinya kita lakukan. Dengan demikian, kita mampu melawan kegelapan itu. Kita mampu menemukan cahaya.

Dalam hidup rohani, kegelapan itu juga sering kita alami. Hal ini kita alami saat dosa menguasai hidup kita. Saat kita jatuh ke dalam dosa. Banyak orang tidak mampu menghadapi godaan-godaan dalam hidupnya. Akibatnya, mereka tidak mampu bertahan dalam kebaikan. Mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka kemudian dikuasai oleh kegelapan hidup. Mereka merasa cemas, kalau-kalau sukacita batiniah hilang dari diri mereka.

Mereka berusaha untuk keluar dari kegelapan dosa itu. Namun mereka tidak mampu berjuang sendirian. Setiap kali mereka mau keluar dari kegelapan itu, mereka jatuh kembali ke dalam dosa.

Lantas apa yang mesti dilakukan? Tentu saja sebagai orang beriman, kita butuh rahmat Tuhan untuk dapat melepaskan diri dari dosa dan kegelapan itu. Untuk itu, orang mesti membuka hatinya bagi rahmat Tuhan. Orang mesti membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Dengan demikian, dosa dan kegelapan itu lenyap dari dirinya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


963
Read more »

Menumbuhkan Optimisme dalam Hidup


 
Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda divonis oleh dokter menderita penyakit yang mengancam nyawa Anda? Anda putus asa? Atau Anda justru punya semangat untuk tetap hidup?

Ada seorang ibu yang divonis dokter menderita batu ginjal. Ia divonis dokter untuk menjalani cuci darah, kalau dia ingin terus hidup. Ia tidak bisa menerima begitu saja vonis dokter itu Ia tidak meratapi hidupnya. Ia mencari tahu tentang kondisi kesehatannya kepada dokter yang lebih ahli. Dalam benaknya, ia yakin, ia tidak menderita sakit yang begitu parah.

Hasilnya adalah dokter yang lebih ahli itu memberikan harapan bagi ibu itu. Ia mengatakan bahwa ibu itu tidak perlu terlalu panik atas kondisi kesehatannya. Yang penting baginya adalah ia tetap berusaha untuk menyembuhkan penyakit batu ginjal itu. Yang penting adalah ia mau menjalani proses pengobatan.

Ibu itu semakin memiliki semangat untuk sembuh. Ia melakukan apa saja yang diinginkan dokter itu untuk kesembuhan batu ginjalnya. Ia yakin, ia akan memperoleh kesembuhan. Setelah menjalani pengobatan, satu tahun kemudian ibu itu sembuh total dari sakitnya. Ia yakin, Tuhan bekerja di balik usaha-usahanya itu. Tuhan tidak meninggalkan dirinya berjuang sendirian.

Karena itu, ibu itu mensyukuri kebaikan Tuhan. Ia mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Caranya adalah dengan melayani orang-orang sakit. Setiap sore hingga malam ia mengunjungi orang-orang sakit di kampungnya. Pertama-tama yang ia lakukan adalah ia memberikan semangat kepada mereka untuk tidak mudah menyerah pada situasi sakit mereka. Ia membangkitkan semangat mereka untuk menghadapi penyakit yang mereka derita.

Sahabat, semangat untuk hidup mesti menjadi bagian dari setiap orang. Mengapa? Karena Tuhan telah memberi hidup ini kepada manusia. Tuhan telah membekali setiap ciptaanNya dengan kemampuan-kemampuan. Tuhan ingin agar kemampuan itu digunakan semaksimal mungkin bagi kebahagiaan hidup.

Namun manusia sering menyerah pada keadaan dirinya saat ia lemah. Manusia kurang berani untuk mencari alternatif-alternatif untuk keluar dari situasi dirinya yang sedang terpuruk. Padahal dengan kemampuan yang telah ada, sebenarnya manusia mampu menghadapi setiap persoalan hidupnya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa masih ada banyak jalan dan cara untuk menemukan hidup yang lebih baik. Orang tidak perlu terpuruk dalam situasi sulitnya. Orang mesti bangkit dari kesulitan hidupnya. Orang mesti berani menatap hidup dengan lebih optimis. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Namun orang beriman mesti menghadapi duka dan derita hidupnya bersama Tuhan.

Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dirinya sendirian dalam perjuangan hidupnya. Tuhan pasti mengulurkan pertolongan, kalau manusia mau meminta pertolongan dari Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan yang baik untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

962
Read more »

Rabu, 17 April 2013

Membiarkan Kehendak Tuhan Terjadi

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda punya masalah dalam hidup? Apakah Anda membiarkan masalah itu menggerogoti hidup Anda atau Anda menyerahkannya kepada Tuhan?

Suatu hari ada seorang yang sakit kustadatang kepada Yesus. Ia merasa diri tidak layak di hadapan Tuhan. Karena itu,tanpa memandang wajah Yesus, ia tersungkur di kaki Yesus. Ia berseru, �Tuan,jika Tuan mau, Tuan dapat menyembuhkan aku.� Ia tetap tersungkur di kaki Yesus. Ia sangat mengharapkan penyembuhan bagi dirinya.

Melihat iman yang begitu besar, Yesusmengulurkan tangan-Nya. Ia menjamah orang kusta itu. Lantas Ia berkata, �Aku mau, jadilah engkau sembuh.� Seketika itu juga orang kusta itu sembuh. Tidakada lagi sakit kusta di tubuhnya. Ia sangat bergembira atas situasi itu. Ia memuji Tuhan atas kebaikan Yesus itu.

Penyembuhan itu memberi sukacita bagidirinya. Kini ia boleh bergaul dengan semua orang tanpa merasa rendah diri. Iatidak perlu takut oleh omongan orang tentang penyakit yang dideritanya. Iaboleh hidup normal seperti orang-orang lain dalam masyarakat. Ia bolehberinteraksi dengan sesamanya secara terbuka dan bebas. Ia boleh diterimadengan baik oleh masyarakat di mana dia hidup. Ia tidak perlu diungsikan lagiuntuk merawat dirinya sampai sembuh. Ia sudah bersih dari sakit kusta itu.

Sahabat, sering kita memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita lebih mengutamakan keinginan diri kita. Kalau Tuhan belum mengabulkan doa-doa permohonan kita, kita merasa Tuhan tidak peduli terhadap kita dan hidup kita. Kita merasa Tuhan sudah lupa terhadap kehidupankita. Tuhan tidak mencintai kita lagi.

Kisahdi atas menunjukkan kepada kita bahwa pandangan kita itu keliru. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Dalam berdoa, orang mesti membiarkan kehendak Tuhan terlaksana atas dirinya. Bukan kehendak pribadinya yang mestiterlaksana. Orang kusta dalam kisah di atas tidak memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia tidak mewajibkan Tuhan untuk menyembuhkan penyakit kustanya.

Iamenyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Ia membiarkan kehendak Tuhan terjadi atas dirinya. Mengapa? Karena kehendak Tuhan itu menjadi kehendak yang terbaik bagi dirinya. Hasilnya luar biasa. Seluruh penyakitnya disembuhkan. Ia menjadi bersih. Ia disucikan oleh Tuhan sendiri.

Orangberiman itu orang yang senantiasa memberikan hidupnya kepada Tuhan. Orang yangselalu mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Tentu saja tidak gampang orangmenyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sebagai manusia yang masih mengembara didunia ini, orang ingin kehendaknya terjadi dalam hidupnya. Ada kebebasanpribadi yang juga ingin diungkapkan kepada Tuhan.

Karenaitu, sambil kita menjalani hidup di dunia ini, kita menyerahkan hidup kitakepada Tuhan. Dengan demikian, hanya Tuhan yang mampu memberi yang terbaik bagihidup kita. Tuhan memberkati. **

Fransde Sales SCJ
MajalahFIAT


961

Read more »

Minggu, 14 April 2013

Mengapa Saya Ingin Bertemu dengan Dia?


Renungan Harian: Senin, 15 April 2013
Kis 6:8-15; Yoh 6:22-29

Mengapa Saya Ingin Bertemu dengan Dia?

Tanda tangan seorang aktris yang cantik seringkali dicari oleh orang banyak, apalagi namanya sudah dikenal di kalangan publik. Demikian pula Santi, sang juara kelas juga sering dicari dan ditanyai oleh teman sekelasnya karena mereka merasa dia bisa menjawab dengan gampang segala soal-soal. Di dalam kehidupan kita ini ada banyak alasan mengapa kita mencari orang lain. Bisa karena kita butuh pertolongan, ingin bertanya sesuatu dan minta informasi, atau bisa juga hanya karena ingin berdua menghabiskan waktu untuk bersharing.
Orang banyak juga datang mencari Yesus, tujuan mereka secara khusus untuk melihat keajaiban yang dilakukan-Nya. Tetapi Yesus menghindar dari mereka karena Dia melihat bahwa tujuan mereka mencari Yesus hanyalah untuk mencari makanan bukan hubungan pribadi yang lebih mendalam. Karena itu, Dia berkata, "sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."
Memang benar, bahwa kita perlu mencari makanan jasmani, tetapi itu bukanlah satu-satunya, kita pun perlu mengusahakan makanan rohani, pertemuan dan persatuan dengan Yesus, bersharing kepada-Nya. Itu artinya kita perlu meluangkan waktu untuk bermeditasi, berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, seperti Yesus pergi menyepi untuk berdoa kepada Bapa-Nya, menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Allah (JRS).

http://kapusinmedan.blogspot.com/
Read more »

Berdoa dengan Penuh Pengharapan





Berdoa dengan Penuh Pengharapan

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda merasa doa-doa Anda tidak dikabulkan oleh Tuhan? Anda kesal dan kecewa terhadap Tuhan? Atau Anda terus-menerus menaruh pengharapan kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang?

Suatu hari seorang bapak agak kesal terhadap Tuhan. Pasalnya, ia sudah berdoa berkali-kali, tetapi tampaknya Tuhan belum mengabulkan doa-doanya. Padahal kebutuhannya sudah sangat mendesak. Ia masih butuh uang untuk biaya pernikahan anaknya. Cukup banyak. Tetapi beberapa hari menjelang pernikahan biaya itu baru ia keluarkan, Tuhan mengabulkan doanya. Ia merasa lega, tetapi ia juga agak kesal. Mengapa Tuhan tidak segera mengabulkan permohonannya?

Ia berkata, "Itulah yang kadang-kadang membuat saya kesal terhadap Tuhan. Kita sudah sangat berharap, agar Tuhan mengabulkan doa-doa kita, tetapi baru di saat-saat terakhir doa-doa itu dikabulkan. Tuhan ini bagaimana? Apakah kita harus selalu bersabar?"

Ia mengibaratkan penantian atas pengabulan doa-doanya itu dengan saat ia sedang haus. Ia sangat merindukan seteguk air. Begitu ia meminum air itu, ia merasa lega. Hilanglah semua kerinduannya untuk meneguk air.

Ia berkata, "Begitu pula doa-doa permohonan kita. Rupanya Tuhan mengabulkan doa-doa kita tepat pada waktunya. Kita harus bersabar menanti pengabulan doa-doa kita itu."

Bapak itu mengaku, ia sangat penasaran atas tindakan Tuhan itu. Namun ia juga merasa puas atas pengabulan doa-doanya. Ia berharap, ia terus-menerus memupuk rasa cintanya kepada Tuhan. Menurutnya, berdoa kepada Tuhan itu menunjukkan rasa sayang manusia kepada Tuhan yang telah menciptakan dirinya.

Sahabat, kita manusia sering kurang sabar dalam hidup ini. Kita mau agar apa yang kita inginkan segera terlaksana. Demikian pula dalam hal berdoa. Kita merasa bahwa kita sudah berdoa dengan sangat khusyuk dan penuh iman kepada Tuhan. Karenanya, Tuhan mesti segera mengabulkan permohonan kita. Kalau Tuhan tidak segera mengabulkan doa-doa kita, kita menjadi kesal. Kita sewot.

Kisah tadi memberi inspirasi kepada kita untuk tetap menaruh harapan pada Tuhan. Orang yang berharap itu orang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Orang yang membuka hatinya untuk hadirnya Tuhan dalam dirinya. Orang seperti ini biasanya tetap berdoa meski tidak tahu kapan Tuhan mengabulkan doa-doanya.

Selain itu, orang juga mesti tetap tekun berdoa kepada Tuhan. Orang yang tekun itu mengungkapkan kesetiaan dan imannya kepada Tuhan. Hanya dalam ketekunan itu orang mampu menumbuhkan imannya kepada Tuhan. Soalnya, kita sering kurang tekun. Kita gampang menyerah pada situasi hidup kita, karena kita sering memaksakan kehendak diri kita kepada Tuhan. Karena itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk tekun dalam berdoa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



960
Read more »

Jumat, 12 April 2013

Pacaran yang sehat, jalan menuju perkawinan bahagia

pacaran


Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah. Satu hari di malam Minggu, seorang teman laki-laki berkunjung ke tempat kos saya. Ia teman baik sejak SMA, tidak pernah ada hubungan istimewa di antara kami kecuali berteman baik. “Kok malam Minggu ke sini, apa kamu nggak apel?” tanya saya dalam nada bercanda. Ia menyahut dengan santai, “Supaya teman-teman se-kos tidak mengira aku jomblo. Walau memang kenyataannya begitu, tapi kan malu kalau ketahuan belum punya pacar. Jadi jangan diam di rumah kos kalau malam Minggu tiba, ke rumah siapa pun jadi deh, biar nggak kelihatan jomblo.” Walaupun merasa maklum, sebenarnya saya heran mendengar jawabannya itu.
Dua puluh tahun kemudian, dan pastinya dua puluh tahun sebelum hari itu, rasanya motivasi sebagian anak muda dalam berpacaran belum banyak berubah. Ketika baru-baru ini saya berbincang dengan keponakan saya yang sudah SMA, ia bercerita tentang motivasi teman-temannya yang sudah mempunyai pacar. Pacaran meningkatkan status sosial, katanya tampak lebih keren dan gaul bila sudah punya pacar. Walaupun kebutuhan akan pengakuan dan status pergaulan adalah bagian dari gejolak masa remaja, tetaplah sangat penting bagi kaum muda untuk mempunyai alasan dan sikap yang tepat dalam berpacaran.
Kaum muda Katolik adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menjadi kudus dalam segala hal. Sebagaimana dinyatakanNya dalam 1 Petrus 1:14-16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” . Usia muda tidak harus tidak matang dalam iman, justru sedari muda kita belajar apa yang benar dan baik yang akan mengarahkan kita menjadi manusia dewasa yang seutuhnya, dalam kepenuhan kasih dan iman kepada Tuhan. Kita baca hal itu dalam 2 Tim 2:22, “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”
Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita dalam semua aspek hidup kita, termasuk dalam hal pergaulan. Di dalam Kitab Suci, Dia mengajarkan sikap-sikap yang baik dan terpuji menyangkut relasi kita dengan lawan jenis. Tuhan menghendaki demikian, sebenarnya pertama-tama demi kebahagiaan kita, karena Ia mengenal kita dengan sempurna sejak semula, dan karena Ia sangat mengasihi kita.
Apakah pacaran itu?
Pacaran itu indah, jatuh cinta itu selangit, berjuta rasanya, kata syair lagu. Ketika kita masih duduk di awal bangku sekolah dasar, bergandengan tangan dengan teman yang berlainan jenis tidak menimbulkan perasaan apa-apa kecuali rasa gembira sebagai teman bermain. Namun menginjak usia pra-remaja, di mana perkembangan fungsi tubuh dan hormonal mulai menjadi dominan, kebersamaan dengan teman lawan jenis menumbuhkan perasaan suka yang berbeda. Ketika dua insan berlainan jenis selalu ingin menghabiskan waktu bersama, merasa aman dan nyaman satu sama lain, berkegiatan bersama, baik lewat pertemuan secara fisik maupun lewat berbagai sarana alat komunikasi, dengan diikuti ketertarikan secara seksual dan romantisme, maka relasi di antara keduanya disebut berpacaran. Tuhan memang menciptakan manusia untuk saling mengasihi. Dalam pacaran, manusia mengenal bentuk saling mengasihi itu secara khusus dalam perasaan cinta kepada lawan jenis, dalam artian, ingin memberi, melindungi, dan mengasihi lawan jenis yang dicintai. Relasi ini bersifat eksklusif, artinya hanya melibatkan perasaan kedua orang yang terlibat di dalamnya. Dalam hubungan pacaran yang baik, harus ada unsur-unsur yang menjaga kelanggengannya dan memastikan tujuannya tercapai, di antaranya secara umum adalah kesetiaan, kejujuran, saling menghormati dan menghargai, tanggungjawab, dan komitmen.
Mengapa kita pacaran
Jika hanya mengikuti dorongan alami dari fungsi-fungsi hormonal tubuh, bisa-bisa manusia berpacaran dengan siapa saja yang ia suka dan kapan pun ia mau. Tetapi tentu tidak dapat demikian, karena manusia adalah mahluk berakal budi, ciptaan tertinggi yang dikaruniai hikmat untuk mengikuti norma-norma kebaikan dari hati nuraninya. Manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Penciptanya, sehingga ia disebut sebagai citra Allah. Ia juga dipanggil untuk berpasangan dan beranak cucu melalui sebuah relasi yang disebut perkawinan kudus yang tak terceraikan.
Karena manusia mempunyai martabat paling tinggi sedemikian, dan dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola alam ciptaan dengan akal budinya, maka setiap tindak tanduknya harus didasari oleh tujuan yang mulia dan alasan yang menjunjung tinggi martabat itu. Tidak terkecuali dalam berpacaran, yang merupakan langkah awal sebelum jenjang perkawinan. Motivasi yang benar dalam berpacaran mengarahkan muda mudi untuk berpacaran dengan sehat dan mencapai tujuannya yang benar dalam memuliakan martabatnya sebagai manusia sesuai dengan tugas dan panggilan Tuhan baginya. Sebaliknya, berpacaran sekedar untuk status, demi ego pribadi, demi memuaskan dorongan seksual semata , atau untuk sekedar bersenang-senang saja, justru berpotensi menimbulkan kesedihan, misalnya luka dalam hati, perbuatan dosa dan rasa bersalah, rusaknya hubungan baik, bahkan kehamilan di luar nikah, atau pernikahan dini yang terpaksa dijalani karena kehamilan di luar pernikahan itu dan bukan didasari oleh cinta yang sejati dengan pertimbangan kecocokan yang matang. Ujungnya adalah masalah, dan bukannya kebahagiaan. Bisa-bisa pacaran tidak lagi berjuta rasanya, tetapi berjuta masalahnya.
Pacaran yang sehat didasari oleh kasih yang tulus dan kebutuhan untuk menemukan pasangan hidup yang tepat, di mana kedua insan berusaha saling mengenal pribadi satu sama lain, mengembangkan cinta kasih sejati, untuk kemudian menikah membentuk keluarga yang dikuduskan dalam sakramen Gereja-Nya, Sakramen Perkawinan. Di dalamnya, Tuhan menghendaki pria dan wanita berketurunan dan membentuk keluarga yang saling mencintai, menghormati, dan melayani dalam kasih dan kesetiaan yang tulus hingga akhir hayat. Semangat kasih dan hormat kepada Tuhan mendasari semua bentuk ungkapan kasih di dalamnya. Kasih yang Tuhan maksudkan adalah kasih yang dituliskan St Paulus dalam 1 Kor 13: 4-7, yaitu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, dan masih banyak lagi.
Keluarga adalah pilar paling dasar yang menopang sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Maka persiapan membentuk keluarga yang diawali dengan proses pacaran mempunyai makna dan tujuan yang sangat penting dan mulia, dan oleh karenanya harus disikapi dan dijalani dengan bijaksana, dengan senantiasa menerapkan apa yang baik yang dikehendaki Tuhan di dalam sebuah relasi berpacaran antara pria dan wanita. Itulah sebabnya, menjalani masa pacaran yang sehat dan sesuai dengan ajaran kasih Tuhan juga akan memberikan bekal berharga bagi kehidupan perkawinan yang bahagia dan langgeng.
Pacaran yang baik yang bagaimana?
Karena tujuannya adalah menemukan pasangan hidup yang tepat sebelum memasuki jenjang perkawinan dan membentuk keluarga yang bahagia, pacaran yang sehat melibatkan sebuah proses. Proses untuk saling mengenal dan mengerti satu sama lain, mengembangkan sikap saling menerima kelemahan dan kelebihan satu sama lain, latihan mengendalikan diri dan bertanggung jawab, latihan untuk berbagi, untuk mendahulukan kepentingan pihak lain dalam semangat saling melayani, latihan menikmati kebersamaan dan berbagi sukacita bersama. Dan tak kalah penting dari semuanya, latihan menjaga kemurnian. Karena “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. “(1 Tes 4 :7)
Proses sedemikian itu memerlukan kematangan dan pada gilirannya juga akan mengembangkan kematangan dari dua insan yang berpacaran. Menjadi makin matang, bertangunggjawab, dan lebih tidak mementingkan diri sendiri adalah beberapa indikator yang baik dari sebuah pacaran yang sehat. Aspek-aspek yang dipelajari dalam sebuah proses saling mengenal itu misalnya seperti di bawah ini:
1. Belajar untuk mencintai
Dalam berpacaran yang baik, cinta yang menerima (eros) dikembangkan sedikit demi sedikit menjadi cinta yang memberi, dan tidak bersyarat (agape).[1] Cinta itu memberi. Sejak kecil, kita telah menerima cinta dan mengalami dicintai oleh orangtua dan saudara-saudara dalam keluarga. Semakin kita tumbuh besar, kita pun merespon cinta yang kita terima itu dengan tindakan dan perasaan mencintai yang sama. Semua itu sebenarnya adalah cinta Tuhan yang membara kepada kita. Namun cinta yang diajarkanNya adalah memberi tanpa syarat, yaitu dengan tulus demi kebaikan dan kepentingan pihak yang dicintai. Cinta yang sedemikian ini tidak diberikan hanya kalau pihak yang diberi melakukan hal-hal yang sesuai dengan yang kita mau, tetapi memberi karena cinta itu sendiri menggerakkan kita memberi karena mengasihi, menerima dan menghormati pacar kita apa adanya.
2. Belajar membedakan hak dan kewajiban
Karena sudah menjadi kekasih dan merasa saling memiliki, bukan berarti kita dapat berbuat apa saja dengan pacar kita dan menuntut pacar kita melakukan apa pun yang kita inginkan. Kadang-kadang atas nama cinta, kita terjebak dalam relasi yang saling menuntut dan bukannya saling memberi. Pemuda dan pemudi wajib untuk saling melindungi, selain secara fisik dan mental, juga terutama dalam hal menjaga kemurnian satu sama lain. Jika pemuda meminta pacarnya melakukan hubungan badan, itu bukan dalam rangka menuntut haknya, justru melanggar kewajibannya untuk menjaga kemurnian pacarnya. Jika pemudi memanfaatkan pacarnya untuk kesenangannya sendiri misalnya minta diantar ke manapun tanpa ingat waktu dan kesibukan sang pacar, minta dibelikan makanan atau benda yang mahal, maka semua itu bukan haknya untuk dipenuhi. Hak yang sehat untuk dipenuhi misalnya adalah hak untuk berdiskusi mengenai rencana masa depan (ingatlah bahwa perkawinan Katolik adalah tak terceraikan, perkawinan adalah untuk selamanya, sehingga sangat penting selama masa-masa belajar berkomitmen di masa pacaran, sepasang kekasih mengeksplor seluas-luasnya ketrampilan untuk saling memahami dan menerima satu sama lain, saling mengungkapkan harapan dan kebutuhan, di dalam konteks perencanaan masa depan berdua), kemudian hak untuk tetap saling mempunyai kebebasan dan waktu-waktu sendiri bersama keluarga atau teman baik, hak untuk tetap menjadi diri sendiri, hak untuk tetap mempunyai hobi masing-masing, dan hak untuk mempunyai waktu khusus bagi Tuhan. Hal semacam ini menjadikan pacaran mendewasakan kita, mari merenungkan lebih lanjut tentang hal ini, dalam 2 Pet 1 : 5-7, “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”
3. Belajar menjadi realistis
Walaupun sedang dalam suasana asmara dan romantisme, pasangan yang berpacaran tetap tidak boleh melupakan realitas kehidupan, yang tidak selalu segalanya manis, romantis dan berbunga-bunga setiap waktu. Maka waktu-waktu berdua hendaknya jangan hanya dihabiskan dengan kegiatan yang sifatnya hanya bersenang-senang seperti rekreasi, makan di restoran, nonton bioskop, berjalan-jalan di pertokoan, atau berbelanja berdua saja. Sesekali luangkan waktu mengunjungi saudara atau teman yang sedang mengalami kesusahan atau sakit, memberikan perhatian kepada orang-orang yang kesepian atau sudah lanjut usia, dan beribadah bersama. Maka sangatlah baik jika pasangan adalah pemuda pemudi yang seiman dalam Kristus, karena kegiatan merayakan Misa berdua dan melakukan pelayanan kasih bersama teman-teman OMK menjadi lebih dimungkinkan.
Apa yang dikehendaki Tuhan dalam pacaran yang sehat
Hal kemurnian baik dalam kata-kata, pikiran, dan terutama tindakan, adalah hal yang sangat penting dalam berpacaran. Kurangnya rasa hormat, kasih dan takut kepada Tuhan serta kurangnya kesadaran untuk bertanggungjawab terhadap masa depan berdua rentan membawa muda mudi dalam dosa percabulan karena nafsu seksual yang tidak dikendalikan. Dalam 1 Tes 4 :3 kita membaca, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan”. Setiap relasi dan tindakan seksual yang dilakukan di luar hubungan perkawinan yang sah, adalah tindakan percabulan.
Dunia anak muda tidak terpisahkan dengan dunia cinta dan cerita romantisme masa muda, walau kisah cinta akan selalu dinikmati oleh semua kalangan dan usia. Percintaan dua anak manusia tidak habis-habisnya menjadi inspirasi dalam dunia seni, sastra, musik, hingga film. Sayangnya, tidak banyak film dan bacaan yang beredar di kalangan remaja, yang memberikan contoh yang sejalan dengan semangat kasih yang murni dalam berpacaran, sebagaimana dikehendaki Tuhan. Nilai-nilai duniawi yang laku untuk dijual memang nilai yang mengumbar kesenangan dan hawa nafsu, kepuasan diri dan kegembiraan sesaat. Jika kaum muda Katolik tidak dibekali dengan pemahaman akan nilai-nilai luhur dalam hubungan kasih dengan lawan jenis, maka kekosongan itu segera diisi oleh membanjirnya tawaran nilai dunia hiburan yang dekat dengan keseharian anak muda. Perasaan mengasihi yang tulus dan bertanggungjawab disempitkan dalam sekedar pernyataan seksual sebagai bentuk ungkapan cinta. Rambu-rambu yang penting untuk diajarkan di dalam berpacaran menjadi asing bagi kebanyakan anak muda. Berciuman, saling meraba, hingga akhirnya melakukan hubungan selayaknya suami istri menjadi kecenderungan yang mengaburkan nilai berpacaran sejati yang seharusnya dikembangkan. Alih-alih saling mengenal, belajar bertanggungjawab, belajar memberikan komitmen dan kesetiaan, belajar saling berkorban, dan berlatih mengendalikan diri, malahan banyak remaja justru jatuh dalam dosa percabulan. Padahal rentetan dosa percabulan itu mengakibatkan kerumitan dan penderitaan, misalnya tersiksa oleh perasaan bersalah, timbulnya sifat posesif dan egoisme, muncul perilaku kecanduan seks, terjadinya kehamilan di luar perkawinan, timbulnya penyakit kelamin dan penyakit alat reproduksi yang bisa berakibat fatal, hingga aborsi. Di sini kita melihat dengan jelas salah satu alasan kasih dan keselamatan di balik mengapa Tuhan memberikan ajaran, perintah, dan larangan di dalam relasi kasih antara dua anak manusia dalam berpacaran, yaitu dalam 1 Kor 6 :15, 18, “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.”
Menurut survey yang dilakukan Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia, ditemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi.[2] Kenyataan ini sangat memprihatinkan. Pihak orangtua, gereja, dan sekolah adalah pihak-pihak yang selayaknya setia memberikan pendidikan seks yang baik kepada orang muda secara rutin dan berkesinambungan. Kebutuhan ini mendesak dan memerlukan tindak lanjut yang konkrit. Tuhan meminta dengan jelas hal ini dalam Ams 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Pasangan yang longgar dalam pengekangan diri terhadap godaan berhubungan seksual di masa pacaran, jika akhirnya berhasil memasuki bahtera rumah tangga, umumnya menjadi lebih rentan terhadap godaan perselingkuhan dan hubungan seksual di luar perkawinan. Bisa dimaklumi bila kaitan itu muncul, mengingat nilai-nilai luhur kemurnian sudah biasa untuk dilanggar selama masa pacaran. Kepercayaan satu sama lain juga bisa sangat berkurang, jika selama masa pacaran sudah biasa berhubungan selayaknya suami istri. Rasa saling percaya yang rendah amat tidak sehat dan tidak membangun di dalam sebuah perkawinan.
Untuk sejauh mungkin menghindari munculnya godaan percabulan yang umumnya sangat kuat membayangi hubungan pacaran muda mudi, kita lakukan kegiatan yang proaktif. Sebaiknya berkegiatan bersama di tempat yang ramai dan banyak teman. Jangan mencari tempat-tempat sepi dan tersembunyi untuk berduaan. Atau hindarilah hanya berdua di rumah dan tempat kos. Tempat yang tersembunyi dan tidak diketahui orang lain adalah tempat yang harus dihindari dalam kebersamaan dengan pacar kita. Melalui Kitab Suci, Tuhan mengingatkan kita supaya kita berhati-hati dengan kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ”Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak, tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3: 20-21)
Juga sedapat mungkin hindarilah hiburan yang tidak sehat di dalam musik, buku, film, yang menyajikan sensualitas. Jika mungkin, carilah sebanyaknya kegiatan berdua dalam lingkup gereja, atau kegiatan pengembangan diri bersama untuk mempersiapkan masa depan, misalnya mengikuti pelatihan kerja atau kursus pengembangan diri berdua, ke perpustakaan berdua untuk belajar suatu ketrampilan yang bermanfaat, belajar memasak berdua, berkebun berdua, berolahraga bersama, saling mencoba kegiatan yang menjadi hobi satu sama lain, dan kegiatan positif lainnya. Kegiatan yang positif akan memanfaatkan energi masa muda yang berlimpah kepada penyaluran yang sehat. Selama kasih dan iman kita selalu dibentengi dengan doa-doa kepada Tuhan, sering merenungkan Sabda-Nya, dan orientasi kepada masa depan yang penuh di dalam Tuhan, niat kita akan selalu diteguhkanNya. Jika godaan untuk bermesraan secara seksual tetap datang juga, cobalah untuk berdoa berdua, datang kepada Tuhan dengan tulus, mohon kekuatan untuk bertahan dalam niat menjaga kemurnian hingga godaan itu lewat. Doa Rosario adalah doa yang ampuh untuk melawan kekuatan si jahat, bersama Bunda Maria yang selalu mendoakan kita, rahmat Tuhan akan memampukan kita bertahan dalam kemurnian dan sebagaimana rancangan-Nya yang indah dalam mengikuti Dia, damai sejahtera-Nya akan selalu memelihara kita (lih. Filipi 4: 6-7). Semakin baik juga jika kita memperkaya dan menguatkan motivasi kita dengan membaca kisah para kudus dalam menjaga kesucian hidupnya, misalnya kisah hidup St Agnes dan St Maria Gorreti, kita mohon perantaraan doa mereka untuk bertahan dalam semangat kemurnian. Bersama Kristus dan dalam Dia, kita bisa !
Maka berkaitan dengan usaha menjaga kemurnian itu, aspek lain yang sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam berpacaran adalah menemukan pacar yang seiman. Kitab Suci menyarankan hal ini di dalam 2 Kor 6: 14-15, ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? “ Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?
Iman merupakan nilai-nilai dasar yang menopang hidup kita. Perbedaan dalam menghayati nilai-nilai hidup akan sangat menyulitkan pasangan muda mudi menjalani tantangan kehidupan. Karena sebagaimana telah dinyatakan di atas, hidup tidak selalu dan selamanya mudah terus dan manis selalu. Contohnya, dalam menghadapi berbagai godaan seksual yang telah disebutkan di atas, kekuatan niat dan doa dari dua orang yang berpacaran tentu lebih kuat dari niat satu orang saja, dan lebih kuat dari niat bersama tapi dengan pemahaman iman yang berbeda. Dalam berbagai persoalan hidup terutama dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak, iman yang sama membuat tantangan kehidupan bisa diatasi berdua dengan kekuatan yang lebih baik dan terpadu, serta kesamaan dalam memandang nilai-nilai iman dan kehidupan. Sebaliknya, iman yang berbeda, bahkan gereja yang berbeda, berpotensi menimbulkan masalah lain juga, misalnya dalam hal mendidik anak-anak, dalam melakukan penghayatan devosional sehari-hari, sampai relasi dengan keluarga besar. Maka sangat dianjurkan para OMK untuk bijaksana dan proaktif dalam memperluas pergaulan dengan teman-teman seiman dalam Gereja Katolik. Mengikuti aneka kegiatan mudika di gereja, di lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah dan di kampus dapat menjadi sarana yang baik untuk menemukan calon pasangan hidup dari kalangan yang seiman dalam Gereja Katolik. Jangan lupa berdoalah selalu agar Tuhan membimbing kita untuk menemukan pasangan hidup yang tepat dan pada waktu yang tepat, seturut kehendak-Nya.
Sekilas pengajaran iman Katolik mengenai seksualitas manusia oleh Beato Yohanes Paulus II
Dalam lima tahun pertama masa kepausannya, Beato Yohanes Paulus II, yaitu dalam 129 pertemuan audiensi umum setiap hari Rabu dari tahun 1979 hingga tahun 1984, telah mengajarkan kita keindahan rancangan Allah melalui tubuh manusia, rancangan yang agung sedari semula tentang seksualitas manusia, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.[3] Pengajaran itu diberinya judul “Man and Woman He Created Them” (Lelaki dan Perempuan Diciptakannya Mereka), judul yang dikutip dari Kejadian 1:27. Kumpulan pengajaran itu kemudian disatukan dalam sebuah dokumen yang dikenal luas sebagai “Teologi Tubuh” (Theology of the Body).
Tubuh manusia, baik dengan jenis kelamin lelaki maupun perempuan, adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pribadi manusia. Melalui tubuh dengan jenis kelamin inilah kita dipanggil untuk menjadi “pemberian/ gift” kepada orang lain, yang secara khusus dinyatakan dalam hubungan suami istri. Maka hubungan seks selalu mempunyai arti yang suci dan luhur, sebab berkaitan dengan maksud Allah menciptakan manusia untuk saling memberikan diri kepada pasangannya sehingga mereka dapat saling mencintai dan melengkapi secara utuh, yang memungkinkan mereka dapat turut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Saling memberikan diri ini sifatnya menunjang (terbuka bagi) kehidupan. Dan oleh karena kehidupan baru selalu berkaitan dengan tanggungjawab melestarikannya, maka hubungan suami istri tak dapat begitu saja dilakukan oleh pasangan yang tidak/ belum disatukan oleh Tuhan sebagai suami istri. Sebab kesatuan suami dan istri mengambil gambaran dari kesatuan Kristus sendiri dengan Gereja-Nya (lih. Ef 5:22-33), di mana dalam kesatuan inilah kita semua sebagai anggotanya memperoleh kelahiran baru dan kelestarian hidup ilahi.
Jika pasangan memisahkan seks dengan pribadi -yaitu dengan hanya mengutamakan keinginan daging, tanpa melibatkan keinginan untuk memberi dan menerima pasangan satu sama lain sebagai pribadi yang utuh (termasuk jiwa dan tubuh pasangan dengan potensi tubuh untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah), maka artinya pasangan tersebut tidak menghidupi/ mengartikan tubuh/ jenis kelaminnya sebagaimana dimaksudkan Allah sejak awal mula penciptaan, karena dimensi tubuh manusia secara fisik (antropologis) tidak dapat dipisahkan dari dimensi ilahi (teologis) yang dirancang oleh Penciptanya. Inilah kebenaran dari seksualitas manusia yang membawa pada hidup yang berbuah dan damai sejahtera bagi umat manusia. Pengetahuan dan penerapan akan kebenaran selalu bersifat membebaskan dan membahagiakan, sebagaimana Tuhan juga mengatakannya kepada kita, “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:32)
Indahnya menunggu
Setelah memahami alasan yang tepat dan sehat mengapa kita berpacaran, dan menyadari berbagai latihan tanggungjawab dan kematangan yang sedemikian besar yang diperlukan dalam sebuah hubungan pacaran, maka kita menyadari bahwa kita tidak harus cepat-cepat punya pacar tanpa alasan yang tepat, dan karena pacaran mempunyai dampak yang besar dalam hidup kita, maka pacaran tidak untuk dilakukan dengan main-main. Punyailah prinsip dan berani tampil beda demi kematangan dan kebijaksanaan pribadi serta tanggungjawab kepada Tuhan, orangtua, serta diri kita sendiri.
Menunda untuk berpacaran sampai kita merasa siap untuk bertanggungjawab, tidak mengurangi kebebasan kita, justru memberi kita kebebasan yang lebih penuh di masa muda, sambil kita sendiri menjadi matang secara fisik, mental, dan spiritual. Dan kita justru terhindar dari rasa sakit dan luka hati yang tidak perlu karena hubungan pacar yang terlalu cepat berakhir karena dimulainya dengan dasar yang tidak kokoh. Berikut ini beberapa dasar yang memberikan keindahan menunda :
Masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa yang penuh gejolak dan perubahan, baik secara fisik maupun mental. Berilah waktu kepada diri sendiri untuk menjadi lebih tenang dan stabil. Sambil mengenal diri sendiri dengan lebih baik, bergaullah seluas-luasnya dengan teman-teman yang baik. Mengenal diri sendiri dengan baik akan memampukan kita mengenal dan memahami orang lain dengan lebih baik juga.
Masa muda juga adalah masa-masa menuntut ilmu dalam kegiatan studi berbagai jenjang baik formal maupun informal. Kegiatan belajar memerlukan konsentrasi yang tinggi sebagai bagian persiapan masa depan yang baik. Di masa muda kita mulai belajar berdisiplin membagi waktu dan mengelola tugas-tugas dengan baik. Jika ketrampilan ini masih dipelajari, sementara sudah sambil membuat berbagai komitmen dalam berpacaran, maka kesempatan berharga untuk belajar dan mengembangkan diri tidak termanfaatkan dengan optimal.
Sambil menjalin persahabatan dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, kita belajar bergaul dengan berbagai karakter sesama manusia. Kelak, jika kita sudah siap secara mental untuk mengikatkan komitmen pada satu orang, kita bisa lebih menghargainya sebagai seorang sahabat yang baik untuk dikasihi dengan tulus, karena pada dasarnya perkawinan adalah juga penyatuan dari dua sahabat baik.
Pergaulan yang sehat mendewasakan kta, melatih kita untuk menyaring dengan bijaksana, pribadi yang sesuai dengan jati diri kita untuk menjadi pasangan hidup kita kelak. Tidak cepat-cepat memutuskan untuk pacaran dengan seseorang memberi kita kesempatan untuk menilai dengan objektif, bagaimana kepribadian teman kita, terutama imannya (apakah ia takut akan Tuhan dan menghormati hukum-hukum-Nya). Untuk mengevaluasi temperamennya dalam mengatasi konflik, tanggungjawabnya dalam tugas sehari-hari, dalam komunikasinya dengan orangtua dan keluarga, apakah ia orang yang dapat dipercaya, apakah ia tekun dan sabar, dan lain-lain. Lalu kira-kira bagaimana semua itu berpadu dengan karakter dan kepribadian kita sendiri. Kalau sudah cepat-cepat memutuskan pacaran, bisa jadi evaluasi kita sudah tidak terlalu objektif lagi.
Dan akhirnya tentang menunggu, kita telah mengerti sekarang, adalah sangat penting untuk menunda melakukan relasi seksual dengan pacar kita. Karena relasi seksual seperti berciuman, saling meraba, dan apalagi hubungan selayaknya suami istri, adalah hadiah Tuhan bagi manusia untuk dibuka pada saat yang tepat, yaitu setelah menjadi pasangan suami isteri yang sah yang dikuduskan oleh Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik. Dengan mengingat selalu kasih Tuhan yang menginginkan segala yang terbaik dalam hidup kita, kita akan disibukkan oleh kegiatan saling mengenal secara sehat dan berkegiatan bersama-sama untuk memuliakan nama Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jangan berikan waktu untuk yang lain, dan mengurbankan masa muda kita dan masa depan kita hanya untuk mencoba-coba kenikmatan sesaat yang melepaskan kita dari cinta kasih sejati yaitu cinta kasih Allah. Adalah indah untuk menunggu, dan menunda membuka hadiah Tuhan itu hingga hari pernikahan kita tiba. Mengikuti ajaran Tuhan, membuat pacaran menjadi semakin manis, sampai ke pernikahan kelak. Kata orang kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis. Dan pacaran makin terasa selangit, karena kita bahkan juga memperoleh hadiah pengendalian diri, yang menguatkan perjalanan hidup kita selanjutnya bersama pasangan yang kita cintai. Renungkanlah anjuran St Paulus yang membekali kita untuk membuka hadiah terindah Tuhan itu pada waktunya serta semangat dari kitab Mazmur, untuk menguatkan kita selalu:
Rm 12 : 1,2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Ef 5 :8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang”
Mazmur 119: 9,11, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau
CATATAN KAKI:
1)http://katolisitas.org/6794/eros-philia-agape [↩]
2)http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/07/19/lokv29-seks-di-usia-remaja-awas-risiko-kanker-serviks-meningkat [↩]
3)http://www.ewtn.com/library/papaldoc/jp2tb13a.htm [↩]
Selamat datang di  http://parokisaya.blogspot.com/
Source : katolisitas.org


Read more »

Rabu, 10 April 2013

Nasionalisme sebagai Penghayatan Iman


Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda sedang berada di suatu negara yang memberikan jaminan hidup yang lebih bagi Anda? Apakah Anda akan mengganti warga negara Anda?

Nelson Tansu adalah profesor termuda di Lehigh University, Betlehem, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia menjadi profesor saat berusia 26 tahun. Dia bukan seorang warna negara Amerika Serikat. Tetapi dia adalah seorang berwarga negara Indonesia. Dia termasuk ilmuwan yang mulai naik daun dengan tiga hak paten di tangannya.

Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doktoral. Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi Amerika Serikat. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.

Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC. Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Yang mengagumkan adalah sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan
di AS, dua di antaranya bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main!! Kedua buku tersebut merupakan buku pegangan wajib mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Meski namanya mengangkasa, ia tetap mencintai tanah kelahirannya, Medan. Nelson lahir di Medan, 20 Oktober 1977 lalu. Sampai sekarang ia masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Ke mana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia.

Ia berkata, "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia.. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras.�

Sahabat, nasionalisme memang penting bagi setiap orang. Bagaimana pun setiap orang dilahirkan di suatu tempat tertentu di negara tertentu. Nasionalisme itu mesti ditumbuhkan meski orang berada jauh dari negeri di mana ia dilahirkan. Ada banyak cara untuk mengekspresikan nasionalisme kita itu.

Nelson Tansu telah menunjukkan kecintaannya terhadap bangsa dan negara di mana ia dilahirkan. Ia tetap bertahan menjadi warga negara Indonesia, meski banyak kemudahan baginya untuk mengubah warga negaranya. Ia tetap mencintai tanah kelahirannya.

Namun sering banyak orang malu mengungkapkan identitas dirinya. Orang merasa malu mengakui diri punya warga negara tertentu. Mereka lebih memilih menjadi warga negara yang lebih kaya atau terkenal.

Sebagai orang beriman, nasionalisme itu menjadi bagian dari penghayatan iman kita kepada Tuhan. Orang yang beriman itu orang yang mampu mengaktualisasikan imannya dalam hidup sehari-hari. Karena itu, iman menjadi iman yang hidup. Bukan hanya sebagai rumusan kata-kata yang kurang bermakna. Iman yang hidup itu diungkapkan dengan menjadi seratus persen warga bangsa ini.

Mari kita tumbuhkan semangat nasionalisme sebagai penghayatan iman kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

959
Read more »

Kamis, 21 Maret 2013

Tetap Menaruh Pengharapan pada Tuhan



Apa yang Anda lakukan, kalau doa dan permohonan Anda belum dikabulkan? Apakah Anda masih menaruh pengharapan pada Tuhan?

Suatu ketika Tuhan berjanji kepada Abraham, �Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Maka firmanNya kepadanya: �Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu�� (Kej 15:5).

Sayang, bertahun-tahun janji itu belum ditepati. Istri Abraham, Sara, tetap tidak memiliki anak selama bertahun-tahun. Bahkan saat usia kedua orang kudus itu sudah sangat tua, belum juga ada tanda-tanda bahwa Sara akan melahirkan seorang anak pun.

Namun Abraham tidak kecewa. Abraham tetap percaya bahwa suatu ketika Tuhan menapati janji-Nya. Tuhan tidak pernah berbohong. Tuhan senantiasa setia pada janji-Nya. Karena itu, dalam situasi seperti itu Abraham tetap setia kepada Tuhan. Ia memberikan hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak menggerutu kepada Tuhan. Keyakinannya tetap, yaitu Tuhan akan tetap menepati janjiNya.

Penantian selama 39 tahun itu tidak sia-sia. Tuhan menepati janji-Nya. Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankanNya. Sara pun mengandung. Lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan. Abraham berumur 100 tahun saat Ishak lahir, sedangkan Sara 90 tahun. Tidak ada kata terlambat bagi Tuhan! Dia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Sahabat, secara manusia kita pasti akan kecewa saat janji yang telah diberikan kepada kita ternyata belum terpenuhi. Mungkin kita akan sakit hati. Ada yang mungkin menyerah pada keadaan. Ada yang berhenti berharap kepada Tuhan dan mulai memakai logika. Ada yang kemudian mencari pertolongan pada hal-hal di luar Tuhan.

Padahal Nabi Yeremia berkata, �Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!� (Yer 17:5). Kisah Abraham menjadi contoh bagi kita untuk tetap berharap pada Tuhan, meski apa yang kita harapkan belum terpenuhi.

Dalam situasi sulit, kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolongan. Kita menaruh harapan pada Tuhan. Namun kita sering tergoda untuk meninggalkan Tuhan, karena doa permohonan kita belum dikabulkan. Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah tetap bertahan pada iman kita akan Tuhan. Tuhan mengabulkan doa dan permohonan kita pada waktunya. Tuhan akan membahagiakan kita pada saat yang tepat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

957
Read more »

Menata Hidup untuk Hidup yang Bijaksana

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda tidak menata hidup Anda dengan baik? Satu hal yang akan Anda alami adalah hidup ini kurang punya makna. Anda hidup, tetapi Anda tidak punya tujuan yang jelas.

Ada seorang gadis yang kurang bijaksana. Ia selalu membenci dirinya sendiri. Setiap kali ada sesuatu yang tidak baik terjadi dalam masyarakat, ia menyalahkan dirinya. Bahkan ia menuduh dirinya yang melakukan hal itu. Akibatnya, hidupnya menjadi tidak tenang. Ia selalu merasa dikejar-kejar oleh bayang-bayang kesalahan itu.

Dalam keseharian hidupnya, gadis itu kemudian tumbuh menjadi gadis yang kurang normal. Secara fisik, ia sering mengalami sakit kepala yang menyeramkan. Ia juga sering merasa sakit pada bagian punggungnya. Secara psikis, ia tidak bisa bertumbuh menjadi orang yang punya pendirian yang kuat. Ia mudah dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. Hidupnya selalu terombang-ambing bagai hidup di atas air.

Gadis itu sering merasa terpukul. Ia merasa bersalah. Ia merasa bahwa hidup ini tidak memiliki makna apa-apa. Ia hidup, tetapi seluruh eksistensinya seolah-olah tidak tampak apa-apa. Ia telah berusaha untuk menangkap kembali makna kehidupan ini. Namun ia merasa gagal. Tidak ada kekuatan untuk mengembalikan dirinya untuk hidup normal.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang serba menantang. Kalau kita lengah sedikit saja, kita bisa kehilangan arah hidup. Untuk itu, kita mesti membangun hidup dengan baik dan benar. Kita mesti memiliki suatu pendirian mengenai hidup ini. Kita mesti menciptakan tujuan hidup itu. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin memiliki makna bagi diri kita.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang mesti menata hidupnya dengan bijaksana. Hanya dengan kebijaksanaan itu, orang mampu memiliki suatu makna yang mendalam. Hanya dengan menata hidupnya secara baik dan benar, orang akan mengalami sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Karena itu, orang tidak bisa hidup hanya dari rutinitas hariannya saja. Hal-hal yang rutin bisa membuat orang jenuh. Hal-hal yang rutin itu menutup orang untuk kreatif dalam hidupnya. Orang tidak bisa menciptakan suasana yang menyenangkan bagi dirinya dan sesamanya. Orang yang hidup dalam rutinitas akan mengalami suasana yang kurang menggairahkan.

Untuk itu, orang tidak boleh berhenti belajar dalam hidupnya. Dengan belajar hal-hal yang baru, orang menyerap ilmu-ilmu baru. Dengan demikian, kejenuhan dalam rutinitas itu dapat diatasi. Hidup yang penuh kebijaksanaan menjadi bagian dari cara hidup kita sehari-hari. Artinya, kita mampu menjalani hidup ini dengan penuh kegembiraan dan bahagia.

Sebagai orang beriman, kita tentu menyertakan Tuhan dalam hidup kita. Kita yakin bahwa Tuhan senantiasa membantu kita dengan memberikan semangat dalam menjalani hidup ini. Tuhan memacu kita dengan firman-firmanNya yang menyegarkan jiwa kita. Untuk itu, kita mesti tetap membuka hati kita kepada Tuhan. Kita membiarkan Tuhan masuk dan memberikan semangat bagi perjalanan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

958
Read more »

Rabu, 20 Maret 2013

Berkorban dengan Hati yang Tulus


 

Apa yang akan Anda lakukan, ketika menyaksikan orang yang Anda kasihi tergolek lemah karena penyakit? Anda biarkan saja? Atau Anda ambil inisiatif untuk memberikan pertolongan?

Ada seorang anak yang begitu antusias mendonorkan salah satu organ bagian dalam bagi ibu tercintanya. Untuk dapat melanjutkan hidupnya, sang ibu membutuhkan organ tubuh yang dicangkokan ke bagian yang sudah tidak berfungsi lagi.

Ketika keluarganya bingung mencari pendonor, sang anak langsung menyediakan dirinya. Ia tidak kuatir akan hidupnya. Baginya, mendonorkan salah satu organ tubuhnya bagi orang yang sangat dicintainya merupakan suatu perbuatan yang terpuji. Namun motivasi yang lebih dalam lagi adalah ia mencintai sang ibu. Ia tidak ingin sang ibu menderita terlalu lama. Ia ingin, agar sang ibu menikmati damai dan bahagia dalam hidupnya.

Anak itu berkata, �Saya rela memberikan organ tubuh saya untuk mama tercinta. Dia telah begitu mencintai saya. Dia telah mengorbankan hidupnya saat melahirkan saya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memberikan organ tubuh yang sangat dibutuhkan oleh mama.�

Hasil dari pengorbanan anak itu adalah sang ibu dapat melanjutkan hidupnya. Ia tidak perlu merasakan deraan penyakit yang menggerogti tubuhnya. Ia boleh hidup bersama mereka dalam suasana saling mengasihi. Operasi pencangkokan berhasil dengan baik. Sang anak juga mengalami kedamaian dan ketenteraman dalam hidupnya.

Ia berkata, �Saya menjadi lebih bahagia lagi, ketika menyaksikan mama lebih ceria. Penyakitnya telah sembuh. Ia dapat hidup tenang bersama kami semua.�

Sahabat, pengorbanan yang dilakukan dengan hati yang tulus membawa sukacita dan damai. Orang yang berani berkorban untuk kebahagiaan sesamanya akan menemukan bahwa hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna. Makna kehidupan itu senantiasa diperjuangkan dalam setiap langkah hidupnya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi betapa hidup begitu bernilai. Seorang anak yang tidak ingin sang mama mengalami penderitaan dalam hidupnya rela mengorbankan dirinya. Ia tidak peduli akan sakit yang akan dideritanya. Baginya, yang penting adalah kebahagiaan bagi orang yang dicintainya.

Tentu saja dalam hidup kita, kita mengalami berbagai hambatan dalam hidup. Hambatan-hambatan itu bisa menjadi penghalang bagi kebahagiaan dalam hidup kita. Untuk itu, dibutuhkan korban untuk mengatasi hambatan-hambatan itu. Kadang-kadang korban itu tidak mendatangkan rasa sakit. Namun sering pula korban itu membuat orang merasa sakit dalam hidupnya.

Yang penting adalah sikap orang dalam berkorban. Orang yang tidak tulus dalam berkorban akan mengalami rasa sakit yang luar biasa, ketika harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Sebaliknya, orang akan mengalami situasi yang damai dan bahagia, ketika ia dengan hati yang tulus berkorban bagi sesamanya.

Karena itu, orang beriman diajak untuk memiliki disposisi batin yang baik dalam usaha berkorban bagi sesamanya. Untuk itu, dibutuhkan suatu latihan yang terus-menerus. Mengapa? Karena berkorban dengan hati yang tulus itu tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang menyertai suatu pengorbanan yang tulus. Mari kita berusaha berkorban dengan hati yang tulus. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


956
Read more »

Kasih Menutupi Segala Keburukan

 
Apa yang akan Anda lakukan kalau tidak ada kasih dalam hidup bersama? Anda akan biarkan saja situasi seperti itu berlangsung? Atau Anda mulai menempuh berbagai cara, agar kasih menjadi andalan hidup bersama?

Suatu hari terjadi percekcokan yang hebat antara sepasang suami istri. Pasalnya, mereka mulai kehilangan kasih. Relasi di antara mereka mulai meredup. Mereka berjuang sendiri-sendiri. Mereka kurang saling memperhatikan. Kalau mereka mulai saling peduli, itu karena mereka masih punya tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Karena itu, mereka bertemu hanya untuk membahas tentang masa depan anak-anak mereka.

Situasi ini berjalan begitu lama. Mereka bersandiwara di hadapan anak-anak mereka. Akhirnya suatu ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Mereka tinggal di rumah masing-masing. Mereka hanya bertemu secara berkala saja. Mereka hanya bertemu untuk anak-anak mereka. Tampaknya mereka tidak saling membutuhkan. Tiada lagi cinta yang tersisa di antara mereka.

Sahabat, kita hidup berkat kasih karunia Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita. Kita hidup dalam sebuah ikatan yang membutuhkan kasih. Orang butuh diperhatikan. Orang butuh disapa dalam hidup sehari-hari. Ini yang semestinya selalu disadari oleh setiap orang. Situasi seperti ini yang mesti selalu diperjuangkan oleh setiap orang. Situasi seperti ini yang semestinya menjadi bagian dari setiap orang.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Akibatnya, banyak orang hidup tanpa kasih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena dosa yang mulai menyusup ke dalam hidup manusia. Dosa mulai menggoda manusia untuk meninggalkan suasana hidup dalam kasih itu.

Dosa dapat menyebabkan gesekan, kesalahpahaman bahkan pertengkaran. Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan kasih. Nah, dalam hal mengasihi, harus ada yang memulai. Jika masing-masing bersikeras merasa diri benar, maka kasih tidak akan muncul. Harus ada seseorang yang sadar, bahwa mereka bersaudara. Persaudaraan itu didasarkan pada kasih yang mendalam.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa hidup yang tidak dikuasai oleh kasih terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam. Tidak terjadi komunikasi yang baik. Orang hidup dalam egoisme mereka. Orang dikuasai oleh keinginan-keinginan dirinya saja. Tentu saja suasana seperti ini sangat berbahaya bagi hidup bersama. Pepatah mengatakan, untuk membangun sebuah keluarga dibutuhkan dua orang yang saling mencintai. Tetapi untuk menghancurkan sebuah keluarga, dibutuhkan satu orang egois yang hanya hidup bagi dirinya sendiri.

Untuk itu, orang beriman butuh kasih yang tulus. Orang beriman mesti memperjuangkan kasih, agar hidup dalam suasana penuh damai. Santo Petrus berkata, �Tetapi yang terutama ialah kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa� (1Ptr 4:8). Mari kita berusaha membangun kasih yang tulus. Dengan demikian, kita mampu membawa damai dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

955
Read more »

Blogroll