Test Footer

Selasa, 07 Desember 2010

Membuka Hati bagi Sesama

Suatu ketika seorang pemuda berusaha untuk mencari kedamaian. Pasalnya, ia mengalami hidup yang kurang tenteram. Selalu saja terjadi pertentangan antara dirinya dengan orang-orang yang ada di rumahnya. Ia berjalan menyusuri pantai yang indah. Lautnya sangat tenang, sehingga mengundang dirinya untuk berhenti sejenak di tepi pantai itu. Sesaat ia menemukan damai di pantai pasir putih itu. Tidak ada ombak yang besar hari itu membantu dia untuk menemukan secercah damai.

Namun pemuda itu belum merasa puas. Yang ia inginkan adalah damai abadi. Suatu damai yang membantu dirinya untuk hidup rukun dengan orang-orang serumahnya. Ia ingin menemukan damai seperti itu. Karena itu, ia melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia sampai di sebuah hutan belantara. Ia menyaksikan binatang-binatang buas yang sedang berjaga-jaga di pinggir hutan itu. Melihat kedatangannya, binatang-binatang itu hendak menerkamnya. Ia menjadi takut. Namun ia tetap memberanikan diri untuk maju.

Pikirnya, binantang-binatang itu hanyalah menggertak dirinya saja. Benar. Binatang-binatang buas itu hanya menggertak. Ia maju dan menemukan seorang kakek tua dalam sebuah gubuk. Kakek tua itu menyambut dirinya dengan penuh kehangatan. Pemuda itu langsung mendapatkan tempat di hati kekek tua itu.

Lantas kakek tua itu bertanya, �Apa yang kaucari, pemuda?�

Pemuda itu menjawab, �Kedamaian. Aku ingin damai senantiasa menjadi bagian dari hidupku.�

Sambil menatap matanya dalam-dalam, kakek tua itu berkata, �Kau telah menemukannya! Ketika ada hati yang terbuka untuk menerima kehadiranmu, saat itulah kautemukan damai. Peliharalah damai itu dengan membuka hatimu untuk sesama.�

Sahabat, betapa banyak orang bingung dalam hidupnya, karena damai seolah-olah menjauh dari hidupnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena tidak ada hati yang terbuka lebar untuk kehadiran sesama manusia. Hati manusia tertutup oleh egoisme. Hati manusia buntu oleh dengki dan cinta diri yang berlebihan. Hati manusia tidak punya tempat bagi sesamanya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa keterbukaan hati bagi sesama dapat memberikan ketenteraman hidup bagi orang lain. Mengapa terjadi percekcokan dan pertengkaran di dalam keluarga? Karena hati nurani manusia buntu. Tidak ada keterbukaan hati untuk mengampuni sesama. Manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Padahal manusia itu makhluk sosial. Makhluk yang semestinya selalu menyediakan hatinya bagi yang lain.

Karena itu, orang mesti selalu menyadari bahwa Tuhan telah memberikan anugerah yang sangat besar kepada manusia. Tuhan telah memberikan manusia hati daging yang lemah lembut. Maksudnya adalah hati manusia itu selalu lunak terhadap sesamanya. Hatinya selalu memberi ruang bagi sesamanya. Bukan hati yang keras seperti batu yang tidak bisa terbuka untuk sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa membuka hati kita bagi sesama. Dengan demikian, damai senantiasa menjadi bagian dari hidup kita. Dunia ini menjadi tempat yang damai bagi setiap orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


565

0 komentar :

Poskan Komentar

Blogroll