Test Footer

Kamis, 01 September 2011

Mendengarkan dengan Baik





Ada seorang anak yang diam ketika diberi nasihat oleh orangtuanya. Tidak ada anggukan kepala tanda setuju. Atau ia juga tidak menggelengkan kepada sebagai tanda tidak setuju. Tidak ada reaksi apa-apa yang ia tunjukkan. Ia tidak memberikan ekspresi apa-apa. Kadang-kadang orangtuanya dibuatnya terheran-heran.



Namun hal yang sangat mengagumkan adalah ternyata ia mendengarkan semua nasihat orangtuanya dengan baik. Ia langsung melakukan nasihat-nasihat orangtuanya. Misalnya, ketika orangtuanya menasihatinya untuk belajar dengan rajin dan baik, ia langsung melaksanakannya. Hasilnya sangat mengagumkan. Nilai-nilai ulangannya selalu yang terbaik. Karena itu, orangtuanya pun memberikan dukungan yang besar kepadanya.



Ketika ditanya tentang sikap hidupnya yang demikian, ia mengatakan bahwa yang penting bukan reaksi langsung. �Saya sadar bahwa saya harus melakukan apa yang dinasihatkan oleh orangtua saya. Percuma saya mendengarkan dengan baik, tetapi saya tidak mampu melaksanakannya dalam hidup saya. Jadi saya memilih untuk diam.�



Sahabat, setiap orang punya sikap yang berbeda-beda terhadap suatu nasihat. Ada yang langsung bereaksi dengan keras, karena tidak mau didikte atau digurui. Ada yang tampaknya setuju, tetapi apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nasihat itu. Ada lagi yang bersikap acuh tak acuh.



Tentu saja setiap orang punya kebebasan untuk menyikapi suatu nasihat atau saran. Namun yang penting adalah suatu nasihat yang baik selalu berguna bagi kehidupan manusia. Suatu nasihat yang baik memberikan arahan bagi manusia untuk menjalani hidup ini dengan baik.



Karena itu, orang dituntut untuk memasang telinganya untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang baik. Mendengarkan dengan baik itu memberi kesempatan bagi seseorang untuk mulai melaksanakan nasihat-nasihat yang baik itu. Mendengarkan dengan baik itu membuka wawasan baru bagi seseorang dalam menjalani hidupnya.



Namun banyak orang kurang punya telinga yang baik untuk mendengarkan. Banyak orang lebih suka mendengarkan diri mereka sendiri. Mereka kurang suka mendengarkan nasihat-nasihat yang baik dari orang lain. Mereka merasa bahwa nasihat-nasihat orang lain itu hanyalah usaha untuk menguasai diri mereka. Benarkah demikian?



Untuk itu, kita perlu belajar mendengarkan dengan baik. Artinya, kita ingin agar apa yang disampaikan kepada kita menjadi suatu masukan yang berguna bagi hidup kita. Kita mau bersikap rendah hati, agar apa yang kita dengarkan itu membuahkan hasil bagi kehidupan kita. Kita bersyukur bahwa masih ada orang yang mau memberi nasihat yang baik bagi kita.



Sebagai orang beriman, mendengarkan dengan baik setiap nasihat orang lain menjadi suatu keutamaan. Artinya, dari sikap itu muncul suatu perjuangan untuk meneruskan kehidupan ini. Dengan sikap mendengarkan itu, kita mau melaksanakan tugas-tugas kita sebagai orang beriman. Tuhan memberkati. **







Frans de Sales, SCJ




770

0 komentar :

Poskan Komentar

Blogroll